Selasa, 27 Maret 2012

Madun dan Sani

Oleh: Wahyu Syahputra


Asap knalpot mobil sedan mengepul. Hitam. Naik ke atas, membentuk kabut hitam di atas kepala. Ada beberapa mobil lagi yang akan keluar, ada beberapa truk lagi yang akan masuk mengangkat beton bangunan, semen, atau alat berat lainnya. Asap knalpotnya lebih hitam dari mobil. Mengepul. Ke atas. Di panas terik, Madun duduk di halte, depan bangunan pabrik ban yang sudah runtuh, sambil mengipas badannya dengan sepotong kardus bekas. Menunggu temannya datang.

Banyak yang bilang pabrik yang akan berdiri sekarang adalah pabrik rokok, tapi ada juga yang bilang kalau yang akan berdiri adalah perusahaan pengiriman barang. tapi bukan itu informasi itu yang buat warga senang, penerimaan kerja! Yang warga sekitar akan di pekerjakan!, tapi tidak semua, hanya beberapa, itupun harus dapat formulir. Madun kebagian, dia orang penting di antara teman-temannya. Kabarnya buat orang seperti Madun hanya kebagian 5 orang, sisanya yang bergelar sarjana.

Sani berjalan terburu-buru membawa tiga karung berisikan botol plastik sisa rapat tadi pagi. Kelihatan wajahnya bercahaya sekalipun kulitnya hitam legam dibakar matahari, hari ini pendapatan botol plastik lebih dari biasanya karena ada yang habis rapat di aula kelurahan. Sekilo bisa dijual dua ribu rupiah, nah mungkin hari ini bisa dapat lebih dari dua kilo, ditambah dari hasil kemarin. Botol-botol plastik ini akan dijual ke pengumpul limbah. Sani berpikir hari ini akan makan enak sama  anak istri, bisa juga menghentikan rengekan si Dul karena kepingin mobil-mobilan, si Hastri juga bisa dibelikan daster baru harga tiga puluh ribuan, dan malamnya Sani berpikir godain istrinya si Mirna yang sudah tiga hari selesai haid.

Sementara Madun sudah mempunyai rencana sendiri, Madun sangat ingin menyenangkan sahabatnya itu, menurutnya Sani adalah satu-satunya orang yang selalu ada saat Madun ingin mati. Pernah, ketika Madun ditinggal kawin pacarnya, selama berhari-hari Madun tidak cari botol plastik, slalu di kamar menangis, dan menangis. lantas, tidak bisa makan karena tidak punya uang. Kuruslah badan si Madun. Sani melihatnya dengan perasaan sedih sekaligus bingung karena tanpa Madun, Sani tidak bisa bebas lagi mencari botol plastik. Madun yang terkenal dengan keberanian dan gampang mengeluarkan uang di sayangi oleh preman daerah pabrik itu. Jadi, gampanglah buat Sani menjual nama Madun untuk ke sana ke mari mencari botol plastik. Singkat cerita, Sani membujuk sahabatnya itu untuk melupakan kenangan buruknya, membelikannya nasi bungkus, menyuapinya, mengambilkan air minum, dan tentunya menemani Madun minum anggur kesukaannya, lantas, mereka  menangis berdua, saling bercerita tentang buruknya nasib mereka, kenangan mereka dengan wanita, teman-teman yang datang dan pergi, sampai mereka berikrar akan tetap bersama kemanapun pergi. Dua hari kemudian Madun bekerja lagi, sembuh dari penyakitnya. Sani melihat sahabatnya dengan gembira. Begitulah selanjutnya ketika Madun lagi hancur. Sani selalu ada buatnya.

Malamnya mereka bertemu di warung kopi Mpok Minah, membicarakan untung yang mereka dapatkan dari botol plasitik bekas.
“San. Kita dapat untung empat ratus ribu!, Aku sudah jual barang kita, tadi.” Kata Madun
“Banyak sekali, Dun! Kamu tidak salah hitung?! Eh, Dun, seuntung-untungnya kita dua hari cuma dapat seratus lima puluh ribu!” Jawab Sani.
“Aku tadi dapat gulungan kabel sisa, San. Hehehehe. Kau tahu kan, timah yang ada di dalam kabel itu kau tahu?! Itu bisa dijual empat puluh ribu per-kilo, San!, Hebat kan sahabatmu ini” Sambung Madun.
“Kau curi dari mana?” Tanya Sani.
“Hahaha. Aku tidak mencuri, San. Ada bos proyek yang kasih aku kabel ini, katanya sih sampah. Nah! Dasar bos bodoh, kabel ini kan bisa jadi uang, aku sergap saja langsung itu kabel, daripada keduluan orang lain” Jawab Madun.
“Hahahah. Dasar bos bodoh, mereka mana tahu yang begituan, yang mereka tahu kan cara bawa mobil. Hahahaha” Jawab Sani.
“Kopi, kopi Mpok, dua gelas ya!” minta Madun.
Langit cerah malam ini, karena tadi siang panasnya sampai ke tulang. Di pinggir warung kucing ngeong-ngeong, mungkin mau kawin. Madun dan Sani asik tertawa, sesekali Madun melihat wanita yang berjalan melintasi warung.
“San, ini bagianmu dua ratus ribu, ya” Madun.
“O ya, San. Temani aku malam ini ya.” Ajak Madun.
“Kemana?” tanya Sani
“Cipinang” jawab Madun sambil tersenyum.
“Aku punya berita baik buatmu, mau aku ceritakan di sana, tapi kita senang-senang dulu, aku yang bayar, kan kamu sudah banyak bantu aku, San!” lanjut Madun.
Sani diam, sambil menghirup kopi.
“Pulang jam berapa, Dun?” tanya Sani
“Sekarang  jam 8, yah, paling jam 11 lah!” jawab Madun.
“Ayo!” lanjut Sani.

Sayup-sayup suara orang mengaji di masjid mengiringi perjalanan dua orang sahabat itu. Di perjalanan, Sani membayangkan wajah Hastri dan Dul. “Ah!, tadi sudah kutinggalkan dua puluh ribu, lagi pula besokkan aku ajak mereka ke pasar malam, pasti mereka senang” Sani membela perasaannya dalam hati.

Sani melihat wajah sahabatnya terpantul sinar lampu jalanan. Wajah yang tidak terurus! Kumis dan jenggotnya dibiarkannya memanjang, pantas wanita jarang mau bersamanya, tapi sekalipun begitu, Sani tetap menyanyangi sahabatnya, cuma Madun lah yang menganggapnya sahabat setelah beberapa kali Sani dijauhi teman-temannya. Sani sendiri tidak tahu kenapa itu dapat terjadi.

Alunan dangdut mulai terdengar dari kejauhan. Berarti Cipinang sebentar lagi sampai.
“San, siap-siap!” ajak Madun yang mulai berdiri di angkutan umum.
Sani berdiri, melihat wanita yang berjoget-joget di pinggir jalan, ada orkes jalanan pikirnya.
Malam itu gerimis, terlihat dari sorot lampu mobil yang tajam. Jalan basah, begitu pula badan Madun dan Sani. Basah. Basah keringat. Mereka lelah. Tapi malam ini harus dapat nikmat, tak ada kata menyerah.
“San!kau jangan takut, aku yang bayar semuanya. Uang yang kau terima nanti ga ada sangkut pautnya sama ini.”  Ujar Madun.

Sani melihat Madun sambil berpikir keras apa yang hendak dibicarakannya. Bisa saja Madun ingin menyelakainya, karena uang yang didapatkan hari ini lebih dari biasanya. Tapi tidak mungkin Madun sudah menganggapnya saudara. Mungkin juga ada berita baik kalau Madun mau menikah, atau pekerjaan, atau persenan, atau...

Sani Cuma bisa melihat sahabatnya dengan perasaan menanti-nanti. Tapi Sani tidak hilang akal. Dia coba memancing cerita dengan pekerjaan yang dilakukannya tadi siang.
“Dun! Aku capek sekali sekarang, mungkin karena tadi banyak sekali barang yang aku kumpulkan. Kayaknya hari ini aku mau tidur cepat.” Ujar Sani.
“Kasihan juga si Hastri, dia agak manja sekarang, kayaknya mau ditemenin tidur.” Lanjut Sani, melirik sambil melihat reaksi Madun.
“Ok, kita pulang sekarang!” Jawab Madun.
Gagal! Dalam hati Sani.
Sani selalu melirik ke arah Madun.
Malam itu tidak ada bintang, langit merah kehitaman.

***
Asap knalpot kembali mengepul ke atas terus ke langit, seakan dia ingin lari dari kota kering itu. Sani berhenti di depan warung nasi tempat biasa pencari barang bekas pakai singgah. Dia melihat ke langit, andai Tuhan turun saat ini, pasti kesejukan akan terasa, berkali-kali dia mendengarkan lalu lalang suara manusia yang singgah di warung nasi, tapi keringatnya kali ini keluar lebih deras. Tuhan tidak akan datang siang ini, dan tidak akan pernah datang sampai kapanpun. Tidak akan pernah datang untuk orang-orang sepertiku. Dia teringat kejadian tadi malam.
“Madun tidak ingin tersaingi, Oh Madun! Kenapa kau begitu lemah!” dalam hatinya.
“Pantas saja dia menraktirku habis-habisan tanpa membicarakan apapun kepadaku!” lanjutnya.
“Ini tidak boleh dibiarkan. Madun harus diselamatkan. Aku tahu jika dia bekerja di pabrik ini pasti orang-orang hanya memanfaatkan Madun untuk tujuannya, dan berpura-pura baik dengannya, Ya! Ya! karena Madunlah yang paling ditakuti di daerah ini, lagi pula siapa yang akan melindungi aku lagi kalau bukan Madun?, Lahanku jelas hilang”
“Mereka tidak pernah tahu betapa Madun menderita hidupnya. Aku lah yang selalu membangkitnya semangatnya” Sani semangat.

***

Dari ujung jalanan Madun memperhatikan gerak-gerik orang kampung. Mereka berbisik membicarakan seleksi pegawai yang akan bekerja di pabrik baru. Dia khawatir semakin banyak orang yang tahu semakin besar kemungkinan Sani tahu. Dia ingin jadi orang pertama yang membilang itu, untuk sahabat tercintanya.
Binatang malam ikut ambil bagian memakan kulit kacang sisa perkumpulan. Madun berpikir keras, tapi selalu dia tidak menemui jalan. Buntu. dia butuh Sani. Dia bingung, apakah sekarang dia harus memberi tahu Sani?, atau besok?, sehingga dia bisa melihat wajah keluguan orang yang baru bangun tidur ditambah kemeriahan sebuah kepastian hidup, kepastian hidup itu adalah diterima di pabrik yang baru. Dia bertanya dalam hati, itu karena siapa? Ya! Karena aku, Madun. yang selalu mencintai sahabat. Balas budi ini terasa cukup, bahkan akan terus bertambah budi-budi yang lain.

Waktu mengabarkan hampir tengah malam, Sani memutar otaknya, terus memaksakan untuk berpikir bagaimana menyelamatkan sahabatnya. Sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, dia melihat ide itu keluar begitu saja melalui asap rokok dari mulutnya. Di samping tong sampah, kucing betina membungkuk membiarkan sang jantan menindihnya, mereka memasrahkan diri pada keadaan yang mesra, mereka saling mengoceh menambah keriuhan malam akan kepastian dan kedunguan.

Sani memesan anggur 5 botol dan beberapa batang rokok. Dia ingin menghabiskan malam dengan Madun untuk memperbincangkan pengalaman, dan barangkali dengan mabuknya sahabatnya itu, Sani dapat menjalankan misinya, mendengarkan cerita-ceritanya yang membosankan, memberikan kehangatan dengan tanggapannya, memberinya kemesraan dengan tidurnya, dan terlepaslah sahabatnya itu dari kedunguan.

Malam makin larut. Sani sudah ulung dengan hal seperti ini, dia sangat tahu perilaku Madun jika dipancing cerita. Dia sangat mengagumi sahabatnya itu dari hal keberanian dan persahabatan. Dan juga dia sering menertawakan kedunguan dan keputusasaan sahabatnya itu jika bercerita tentang kisah calon istrinya. Mereka menghabiskan malam dengan bercerita, saling berpeluk, mengusap, mengibaratkan bahwa tanpa Sani, Madun bukanlah manusia, dan sebaliknya. Mereka membuat api unggun kecil di depan rumah Madun. Melihat langit yang merah dan rimbunan ilalang yang menari ke kiri dan kanan, merasakan angin yang perlahan merayapi tubuh keduanya. Malam ini sungguh mesra. Malam penuh gairah bagi sepasang sahabat tersebut. Mereka mengikrarkan bahwa hanya kematian yang dapat memisahkan mereka. Botol anggur perlahan mulai kosong. Mereka merebahkan diri di atas koran. Madun bernyanyi lagu tidur. Dia gembira malam ini mabuk bersama Sani dan besok subuh membangunkan Sani dengan tatapan lembut bahwa kabar yang dia terima lebih baik dari dari suara tuhan. Dalam rebahannya dia membayangkan wajah Sani yang mengembang gembira. Aku lah sahabat sejatinya yang menyelamatkannya dari jurang kehancuran dan kesengsaraan hidup. Sementara Sani, memandangi wajah sahabatnya yang tersenyum dari tadi. Dia melihat mata sahabatnya yang sayu siap untuk tidur yang berarti kemenangan untuk mereka. Membayangkan wajah sabahatnya itu terlepas dari penindasan orang-orang berdasi. Aku menyelamatkanmu Madun Sahabatku!. Aku adalah orang yang selalu menolongmu dalam keadaan apapun. Kau selalu tahu itu, Madun sahabatku.

Geliat lidah api menghangatkan tubuh mereka. Madun mendengkur. Langit merah. Lendir malam di atas rerumputan menunjukkan wajah pagi akan datang. Tampaknya besok akan hujan. Tapi beberapa hari ini langit selalu begitu tanpa hujan.

***

Asap knalpot mobil sedan mengepul. Hitam. Naik ke atas, membentuk kabut hitam di atas kepala. Orang berlalu lalang berharap cemas tentang masa depan mereka. Masa depan ada di depan di antara gudang pabrik. Di dapur yang tidak berasap. Di depan abu bekas api unggun. Di mata mereka. Urat. Daki yang abadi. Masa depan di antara mata yang tertutup. Masa depan yang terbawa bau nafas mereka sehabis bangun tidur. Matahari meninggi. Harapan itu menguap bersama sinarnya.

Kamis, 23 Juni 2011

Oh ya!

Aku ingat ada yang mati kemarin
ayam dilindas truk sampah
seketika jadi sampah juga di atas jalan

Aku ingat ada yang lahir kemarin
di tv, bayi kembar siam, satu harus mati yang lain hidup
Aku kembali ingat ayam

Hari ini aku lihat umbul-umbul sebentuk partai
sebelahnya masjid
aku kembali ingat ayam dan bayi kembar siam

Oh!

Ciputat